Tampilkan postingan dengan label negara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label negara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2011

Hubungan antara Tugas Negara dan Backpacking

Menjadi blogger yang rajin menulis memang tidak mudah kawan, termasuk saya sendiri harus mengakui hal itu, kadang karena kesibukan dan pekerjaan yang datang silih berganti saya jadi tidak bisa konsekuen dan konsisten dalam menulis di blog sendiri, padahal ada pepatah yang mengatakan “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, blogging pangkal bahagia” yah pa boleh dikata,, salah satu kendala yang kadang menghalangi saya untuk selalu meng-update adalah tuntutan pekerjaan yang terkadang membuat saya tidak sempat menulis di dunia maya, pekerjaan yang mengharuskan saya pergi dari kota tempat bekerja ke kota atau tempat lain untuk menunaikan tugas, bisa dalam daerah atau luar daerah, kalau jaman sekarang mirip-mirip lah dengan istilah “backpacker”. Namun kawan, jangan salah karena perjalanan yang saya tempuh di akomodasi oleh negara, dalam arti diberikan uang transport, makan, penginapan, dan uang harian sesuai dengan apa yang diputuskan oleh Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri (baek banget dehhh…) maka backpacker nya pun bukan murni backpackeran a la teman-teman yang memang niat dan nekat untuk melakukan travelling sekehendak hatinya, karena ada rambu-rambu bagi saya dan juga teman-teman lain yang juga kadang bertugas seperti ini, sebutannya boleh lah kita rubah sedikit menjadi “state-packer” (wuiihh keren..) atau “govtraveller” (eduuunn…) atau apalah terserah yang mencerminkan substansi pelaksanaan tugas dan pengistilahannya dengan tepat.. adapun rambu-rambu yang harus selalu dipenuhi kala melakukan hal itu adalah.. :
1. Melaksanakan tugas yang diamanatkan oleh negara/badan/lembaga/kementrian/instansi dengan benar, tepat, dan penuh pertanggungjawaban, apa tugas yang diberikan?? Jikalau anada bingung karena kadang memang kita ditugaskan pada hal yang ukan tugas pokok dan fungsi utama kita, jangan bingung dan malah keluyuran tak jelas, solusinya adalah ambil surat tugas dan baca apa yang tertulis di situ.. biasanya akan tertulis pernyataan :
Badan/Kementrian/Lembaga/Instansi Bla Bla Bla
Menugaskan kepada :
1. XXXX bin XXXXXY
Untuk : melakukan tugas xxxxxx dalam rangka xxxxxx di xxxxxx dari tanggal xx s.d. xx
Selesai lah satu masalah.. maka anada kan mengerti apa yang ditugaskan dan mari kita laksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab..
2. Membawa Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) lembar 2 dan memintakan tanda tangan pejabat yang berwenang sesuai urusan kita di tempat tujuan, beserta memintakan stempel tempat yang terkait sebagai bukti bahwa kita telah sampai di situ dan melaksanakan tugas,, ingat teman jangan sekali-sekali memalsukan tanda tangan dan stempelnya lalu anda malah keluyuran tak jelas karen itu berdosa dan kata bang haji Oma Irama itu “terr llaaa lluuu…..”
3. Kemudian sebagaimana saya singgung di atas, karena perjalanan ini dalam rangka tugas dan dibiayai oleh negara maka tentu negara akan meminta pertanggungjawaban dari kita, nahh lho..
Karena keputusan Menkeu bilang bahwa biaya seperti tiket dan penginapan kita dibayar secara at cost, setelah sampai di tempat kerja kita harus menyerahkan tiket kendaraan beserta pungutan atau pembayaran lain yang terkait kepada bendahara pengeluaran atau sub bag keuangan di tempat kita bekerja, begitu pula dengan biaya penginapan, bill atau faktur dari hotel yang kita inapi itulah yang diberikan ke negara karena secara nyata itulah yang terjadi.. kemudian apabila ternyata ada kelebihan atau kekurangan uang yang kita terima dengan dokumen pertanggungjawaban yang terjadi, yam au gak mau akan terjadi pengembalian atau penambahan atas uang perjalanan dinas tersebut..

Yah kira-kira itulah beberapa hal-hal yang harus dicermati ketika melakukan perjalanan dinas ketika kita bekerja, agak sedikit berbeda dengan para backpacker yang sangat free dan independen ketika melakukan perjalanan, akan tetapi jangan buru-buru merengut dulu teman, walau berbeda dalam beberapa hal, akan tetapi karena esensi dari kegiatan yang dilakukan adalah menempuh perjalanan maka antara backpacker dan perjalanan dinas pun masih mempunyai beberapa kesamaan, berdasarkan pengalaman pribadi saya kesamaan itu antara lain adalah;
1. Biaya perjalanan yang kadang murah, dan kelasnya tidak terlalu tinggi, ya iya lah, kalo orang yang backpacker karena mau nya gak makan biaya mahal ya nyarinya transportasi yang murah, hal seperti ini terjadi juga pada para pegawai yang pangkatnya sedang-sedang saja (contohnya : saya) karena otoritas keuangan di negeri ini mengatur bahwa rate perjalanan adalah kelas ekonomi dan eksekutif, maka ya mau tak mau alat transportasi yang dipakai ya yang itu-itu juga. Hal yang sama juga akan terjadi pada hal penginpana di hotel, wisma, atau losmen,,
2. Adanya kegiatan menggelandang di dalam perjalanan atau di tempat tujuan, tenang kawan, menggelandang di sini bukan yang konotasinya jelek ya,, maksudnya itu adalah “jalan-jalan kemanapun kaki melangkah” wuiihh keren banget kan. Nah, setelah pekerjaan yang ditugaskan selesai sementara waktu pulang ke tempat kerja masih lama maka itu bisa dimanfaatkan dengan berjalan-jalan atau bermain-main ke tempat yang belum pernah dikunjungi atau sangat senang untuk dikunjungi kembali, inilah salah satu unsur kenikmatan dalam travelling..
3. Datangnya pengalaman baru atau pelajaran hidup yang gak akan didapat kalo kita berdiam diri saja, (edaasssss… berat oey..). gimana maksudnya? Begini, tentu dengan pengalaman yang baru di dalam perjalanan atau tempat yang belum pernah dikunjungi akan mendatangkan wawasan baru yang ke depannya akan diharapkan memnuat kita menjadi tambah bijaksana dalam kehidupan dan juga mengurangi stress dalam menghadapi rutinitas pekerjaan yang kadang begitu-begitu saja..

Nah demikianlah beberapa penjelasan mengenai serba-serbi travelling dengan tugas bagi para abdi negara, dan sedikit hubungannya dengan backpacker an yang dilakukan oleh para pemuda yang memang sebenarnya sangat bermanfaat bagi pribadi, perkembangan ekonomi secara makro dan mikro, dan efektifitas serta efisiensi dalam menjalanakan reformasi birokrasi (apa seehhh ..). semoga penjelasan kali ini mecerahkan, dan ingatlah pepatah ini “dunia tak selebar daun talas” serta “bagaikan katak dalam sangkar emas” atau “buku dan google adalah jendela dunia” niscaya anda akan mengerti.. :D

Sabtu, 11 Desember 2010

tentang ke"bangsa"an

"Indonesia Tanah Airku
Tanah Tumpah Darahku
Disanalah Aku Berdiri
Jadi Pandu Ibuku
Indonesia Kebangsaanku
Bangsa Dan Tanah Airku
Marilah Kita Berseru
Indonesia Bersatu…… “ dan seterusnya,

Jujur kawan, ketika masih sekolah dulu saya berkali-kali menyanyikan lagu ini, tepatnya ketika upacara bendera di sekolah setiap hari senin, dan saya menyanyikannya dengan biasa-biasa saja, akan tetapi pernah suatu ketika saya menyanyikan lagu ini dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai terharu.. yaitu ketika berada di stadion senayan atau sering juga disebut stadion utama gelora bung karno, entah kenapa ketika menyanyikan lagu ini sebelum pertandingan sepak bola berlangsung rasa-rasanya ada yang beda seolah-olah gelora dari presiden bung karno benar-benar menyeruak di tempa itu, sepertinya kita benar-benar sedang membela kehormatan dan kejayaan bangsa sendiri, semangat yang menggebu-gebu dan kebanggan yang dalam akan suatu bangsa yang namanya Indonesia..
Tentu saja sebagai warga negara Indonesia kita harus bangga akan negara kita sendiri, negara yang merentang dari sabang sampai merauke, dari talaud sampai ke pulau roti (kata iklan sebuah mie instan..) dengan bendera nasional berwarna merah putih dan burung garuda sebagai lambing negara, dengan berate-ratus suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, oke,, nah, tapi sebenarnya apakah yang dimaksud dengan sebuah “bangsa” itu ?? ini adalah sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seorang negarawan prancis bernama ernest renan dalam suatu kuliah di universitas Sorbonne tahun 1882. Renan sendiri kemudian menjelaskan dalam makalahnya “qu’est-ce qu’une nation?”bahwa bangsa adalah “jiwa, suatu asas rohani” yang terbentuk dari kepemilikan kolektif atas suatu kenangan dan kehendak kebersamaan di masa kini, renan menolak bahwa bangsa itu terbentuk atas dasar ras, agama, bahasa, dan aspek geografis, meskipun hal-hal ini adalah aspek yang utama, memang dalam menerikan definisi renan berfokus pada aspek ideologis-idealisme.

Lain Ernest Renan, lain pula dengan Benedict Anderson, dalam karyanya “Imagined Communities: Reflections of the origin and spread of the nationalism” ia mendefinisikan bangsa sebagai sutu komunitas politis dan dibayangkan sebagai suatu yang bersifat terbatas secara inheren dan berkedaulatan. Kata-kata “dibayangkan” dimaksudkan bahwa komunitas ini hanya ada dalam benak masyarakat, akan tetapi bayangan ini bersifat kolektif dan diusahakan identik. Suatu bangsa kemudian akan memiliki idealisme bersama yang disebut sebagai nasionalisme.
Lalu kemudian timbul pertanyaan apakah nasionalisme itu ?? seorang ilmuwan lain bernama Ernest Geller menjelaskan bahwa “prinsip yang menganggap bahwa unit politik dan nasional haruslah sebangun-selaras.”
Berbagai definisi di atas menjelaskan kepada kita mengapa kadang pada suatu waktu kita menjadi begitu cintanya pada negara, dan juga bangga atas apapun yang menjadi symbol atau pengejawantahan dari negara tersebut, karena dalam benak kita, kita sedang membela suatu kesatuan yang dibayangkan secara kolektif, dan sifatnya melebihi persaudaraan yang erat melampaui hubungan kekerabatan dan pertalian darah.. dalam hal inilah tim nasional sepak bola mendapatkan ruh nya, sehingga orang akan berbondong-bondong datang dan mendukung perjuangan beberapa orang yang ditahbiskan sebagai “anak-anak bangsa”.
Definisi-definisi di atas begitu kuat mempengaruhi pemikiran dan perasaan saya sampai ketika saya sebagai seorang muslim mempelajari lebih lanjut akan apa yang ada dalam agama saya, yaitu agama islam :

Dulu saya pernah berpikir bahwa aspek-aspek utama yang memebntuk sebuah negara-bangsa adalah kesamaan bahasa, ras, wilayah geografis, dan kebudayaan. Akan tetapi ternyata aspek-aspek tersebut memang tidak berlaku sacara mutlak sebagaimana yang dijelaskan oleh ilmuwan-ilmuwan di atas. Dan seiring dengan berjalannya waktu, sebagai seorang muslim saya akhirnya mengetahui bahwa konsep bangsa-nasinalisme itu sebenarnya tidak mutlak dan tidak terbatas hanya pada apa yang diajarkan di sekolah-sekolah atau meja kuliah. Ada sebuah fatwa ulama local dalam perang revolusi di Indonesia yang menyatakan bahwa jikalau tetangga muslim kita misalnya, diserang oleh aggressor yang semena-mena dan zholim, maka kita harus membantu tetangga kita tersebut, adapun hukumnya bagi tiap-tiap individu tergantung dari besaran jarak individu tersebut dari wilayah konflik, hukumnya menjadi wajib bila jaraknya dekat dengan konflik. Maka, kemudian saya berpikir bahwa fatwa ulama jawa timur zaman revolusi ini pun harusnya diletakkan pula dalam posisi yang sama dalam skala global internasional. Jika negara tetangga kita Malaysia misalnya diserang habis-habisan oleh Thailand misalnya, maka negara-bangsa Indonesia pun sudah seyogyanya untuk memberikan bantuan. Bantuan ini tentu tidak saja didasari atas sentimen-sentimen kebangsaan belaka, namun oleh sentiment keagaaman yang merupaka salah satu dari aspek berkategori ideologis-religius. Sintesis yang kemudian terbentuk di benak saya adalah suatu rumusan yang berbunyi “ di mana ada wilayah yang di situ berdiri masjid serta dikumandangkan adzan, maka di situ lah tanah air seorang muslim, siapa pun dia”. Sintesis ini kemudian meletakkan aspek keagaamaan sebagai salah satu aspek penting pembentuk persaudaraan negara bangsa, melebihi aspek-aspek tradisionla lain seperti ras, bahasa, adat-istiadat, maupun wilayah geografis.
Saya tidak tahu apakah aspek ideologis keagamaan ini diabaikan atau tidak oleh para negarawan perumus di atas, karena dengan adanya kesamaan ideologi agama ini bisa terbentuk suatu komunitas yang hampir ciri-cirinya menyamai sebuah “bangsa” serta yang sifatnya melampau batas-batas wilayah geografis. Oh, sudahlah saya bukan lah orang yang ahli dalam masalah filsafat seperti ini, saya hanya sebatas menyampaikan uneg-uneg yang ada dalam hati saja.. oke tetap dukung timnas Indonesia di mana saja ia berlaga, akan tetapi tetap dalam batas yang wajar karena sebenarnya kita semua ini adalah bersaudara.. ^^v