Tampilkan postingan dengan label marx. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marx. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2009

POLITIK EKSTRIM

Pada hari-hari belakangan ini saya sering membaca berbagai buku, akan tetapi buku-buku yg saya baca baru-baru ini berkisar pada isme-isme atau pandangan-pandangan politik yang disebut dgn sayap kiri ekstrim dan juga sayap kanan. Hal ini sebetulnya timbul karena saya tertarik dengan berbagai buku atau penerbit yang terang-terangan memajang simbol2 revolusi, sosialis, komunis dan bahkan fasis. Sebetulnya saya kagum dengan pemaparan para penulis buku tersebut yang dapat menjelaskan dengan gamblang dan logis, misalnya dalam hal kenapa pembangunan dalam perjalanan bangsa cenderung untuk tidak memihak pada rakyat kecil, atau penjelasan mengenai TNI dan apa perbedaannya dengan milisi rakyat pada zaman dahulu.. Beserta kutipan 2 dari berbagai tokoh-tokoh besar komunis di Indonesia semisal musso, tan malaka,Semaoen atau aidit.


Sebenarnya bagi saya perbedaan antara komunisme dengan sosialisme masihlah amat kabur, saya tidak mengerti mengapa terkadang mereka di suatu waktu dapat berdampingan (semisal sutan syahrir dan amir syarifuddin pada masa revolusi) namun di lain waktu dan tempat yang berbeda, mereka akan menjadi musuh, amat pragmatis sekali kelihatannya.
Komunisme menurut apa yg saya tangkap adalah ideology yang berusaha untuk meruntuhkan penjajahan manusia atas penjajahan manusia yang lainnya. Kelas proletar (buruh) dibela agar dapat layak hidupnya dalam menghadapi kaum borjuis. Tokoh kelas wahid dari paham ini, karl marx menyatakan bahwa ada beberapa fase dalam sejarah beserta urutannya yaitu; fase setelah masa feodalisme adalah kapitalisme, dan sesudah itu baru masa sosialisme, ide yang lain dari paham ini adalah konsep internasionalisme, yang menyatakan bahwa pembelaan terhadap kaum proletar harus dilakukan secara mengglobal, dikarenakan kapitalisme dan liberalisme turut bekerja pula secara mengglobal.
Hal lain yang juga nyata dari komunisme adalah kebenciannya terhadap agama, yang dianggap sebagai candu dalam masyarakat. Sepertinya benar-benar ingin dibentuk sebuah masyarakat tanpa kelas yang benar-benar homogen. kecenderungan ini pun terlihat pada tokoh-tokoh di indonesia, seperti apa yang dikatakan oleh tan malaka ketika berpidato di moskow “jika aku berada di hadapan orang-orang, aku adl seorang komunis, tapi bila aku mati menghadap tuhan aku adalah seorang muslim” dan apa yang diisyaratkan oleh sutan syahrir ketika ia tidak menyinggung sedikit pun tentang Tuhan di dalam karyanya yang berjudul " perjuangan kami". Mimpi komunisme bagi sebagian orang adalah cita2 yang ingin digapai oleh orang-orang yg kebanyakan dari mereka merupakan kelas pekerja dan hanya sedikit saja yg berasal dari kelas borjuis.
Akan tetapi, jeleknya, paham komunis ini dalam perwujudan tujuannya cenderung menghalalkan segala cara, licik, dan kejam serta khianat. Hal ini terbukti dengan adanya pemerintahan dictator oleh stalin, mao, atau adanya pemberontakan PKI di Indonesia. Walaupun mereka mengatakan & memulia2kan kelas pekerja, namun sepertinya pelaksanaan mereka di lapangan berbalik 180 derajat dengan teori2 yang mereka pakai.
Di Indonesia setelah sempat dilarang (seperti apa yang dilakukan nazi) oleh orde baru, yg kemudian larangannya dicabut, ideologi ini sepertinya mulai bergerak kembali secara diam2 dengan adanya terbitan2 yg menjurus kepada paham ini secara terang-terangan. Penulis2 yang terkait atau tidak dengan “partai terlarang” kembali menjunjung ide2 mereka semenjak dilarang di zaman orba dengan bebas berkedok nama 'kebebasan berpendapat'.
Sebenarnya, komunisme secara praktik akan menuju kepada kediktatoran (kediktatoran proletar istilahnya) setelah mereka meraih kekuasaan dan menjadi kuat di suatu tempat. Kemudian juga secara tegas akan menganut sistem satu partai dalam negara dan membunuh demokrasi. Menekankan kepada kepatuhan dan disiplin buta kepada petinggi parta tanpa keraguan dan kebimbangan. Apabila ada perbedaan pendapat antar elit maka cenderung akan memakai cara kekerasan, seperti apa yang stalin lakukan kepada leon trotsky.
Kemudian sepertinya simpatisan yang tidak mengikuti ide2 komunis secara keseluruhan menjadi sedikit lunak atau berubah jalan ke arah sosial-demokrasi. dan bagaimanapun juga paham2 ini cenderung memakai kekerasan, provokasi, atau mobilisasi massa untuk mewujudkan revolusi yang mereka cita2kan.
Mari kita berpindah ke isme yang lain, yaitu liberalisme, sebagaimana kita pelajari. Pada abad pertengahan, kaum eropa yang mencuri khazanah ilmu dari peradaban muslim mengalami kemajuan dalam bidang teknologi khususnya, dan kesejahteraan pada umumnya. Kemudian setelah itu mulai timbul revolusi2 sosial oleh rakyat seperti membunuh raja-raja dan bangsawan-bangsawan mereka seperti yang terjadi di revolusi prancis atau amerika. Sebenarnya dalang peristiwa ini siapa? Tdak lain dan tidak bukan kaum pedaganglah dalangnya, mereka menunggangi kemuakan rakyat kepada feodalisme yang berlangsung bertahun-tahun.
Kaum pedagang inilah yang kemudian berada di belakang pemerintahan baru yang kemudian terbentuk. Di sini, logika bisnis mereka bekerja, melalui lobi2 yg langsung tersambung dengan pusat kekuasaan, kaum pedagang yg menjadi kaum feodal baru secara demokratis kemudian meluaskan bisnisnya dengan melakukan penjelajahan ke dunia baru oleh berbagai pelaut dari penjuru eropa. Yang kemudian membawa berita akan adanya kekayaan di sana, segera setelah itu, penjelajahan (kolonialisme) dgn tujuan mencari kekayaan alam dilakukan, dan karena sikap kasar mereka terhadap penduduk pribumi, maka meletuslah perlawanan dengan dasar nasionalisme pribumi terhadap para penjajah.
Seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan teknologi terbentuklah kesadaran para imperialis-kolonialis akan nikmatnya suatu kerjasama dalam rangka penjajahan global yg disebut dengan globalisasi. Pada masa inilah bangkit orang2 yang merasakan kesengsaraan akibat imperialisme. Lahirlah berbagai paham yang moderat sampai yang radikal sbg bentuk perlawanan modern.
Tetapi negara2 penjajah yang semakin maju dan sama liciknya bekerjasama dalam menjajah dunia ini dan menguras kekayaan alam negara dunia ketiga yang alamnya kaya. Globalisasi bisa merusak perekonomian sebuah negara dan memiskinkan masyarakatnya tanpa senjata. Dapat pula membelokkan alur ekonomi sampai menyetir pemerintahannya. World bank, wto, atau imf, bisa mengontrol negara2 jajahan ekonomi dalam semua sektornya, dan jadilah sebuah kolonialisme model baru yang dilegalkan secara tidak benar dengan aturan2 bisnis yg berlaku internasional.
Kalangan penjajah yang berkomplot ini kemudian berwuwjud dengan nama persatuan dunia pertama atau nama2 lainnya yang menunjukkan superioritas perekonomian mereka. Hala lain yang menysahkan adalah , bahwa para new coloniallist ini memiliki kuasa militer yang mereka paki untuk memaksakan kabijakan tamak mereka kepada suatu negara berkembang atau untuk menundukkan negara lainnya yang berani membangkang.
Setelah memulai dari kiri, kemudian mari kita berpindah ke kanan. Komunisme sering dikatakan sebagi sayap kiri, lalu apa sebenarnya syap yeng satunya ? tidak lain, dan tidak bukan adalah apa yang disebut dengan fasisme. Paham satu ini mengguncang dunia dengan beberapa tokoh besarnya, herr hitler tentu saja, benito mussolini, dan jenderal franco. Paham ini mengacau kedamaian dunia dengan mengandalkan kekuatan militer yang luar biasa dan rasa kefanatikan akan ras yang amat tinggi.
Fasisme menekankan kepada rakyat bahwa mereka harus berjuang demi kejayaan negerinya. Dalam bahasa lain bisa dikatakan bahwa negara adalah tujuan dan rakyat hanyalah alat. Mereka amat fanatis pada ras sendiri dan menjadikan nasionalisme menjadi sangat horor. Singkatnya, kejayaan negara harus diperjuangkan dan negara serta ras yang lainnya dianggap hina.
Fascist = fasces (italia) secara gramatikal adalah seikat cambuk yang diikat dengan tali (simbol polisi zaman romawi). Memang simbol menjadi amat penting dan dipilih secara cermat agar bisa mengingatkan masyarakat akan kejayaan masa lalu mereka, nenek moyang mereka. Hal ini agar rakyat menjadi patuh, terbuai dan nasinalisme buta dapat menjadi ide nasional. Simbol swastika nazi misalnya, yang dipakai hitler alat propaganda partai, diyakini sebagai simbol yang dipakai oleh bangsa aria di masa lampau. Paham satu ini memikat rakyat karena dianggap dapat mengembalikan martabat nasional, mengahapus kesulitan ekonomi, dan menyingkirkan ancaman kolonialis dan juga komunis.
Timbul pertanyaan di benak saya, kenapa antara komunis dan fasis tidak bisa bersatu, padahal mereka sama- sama membenci kapitalis-liberalis dan berakar pada ide yang sama yaitu sosialisme ?? ternyata benyak perbedaan prinsipil & mendasar pada keduanya. Pertama, adalah pentingnya rasa nasionalisme di paham fasis, sementara itu komunis memimpikan internasionalisme perjuangan. Kedua, adalah kasus perbedaan kelas di fasisme yg sepertinya masih bertahan, sedangkan komunisme memimpikan dihapuskannya kelas borjuis. Dalam sejarah, ide fasisme yang amat destruktif & anarki ini, mengizinkan penaklukan terhadap ras lain bagi kejayaan negara, sehingga terjadilah perang dunia kedua, yang sampai2 membuat komintern (komunis international) harus mengambil langkah bersekutu dengan negara2 (yang bagi komunis sendiri secara teoritis adalah musuh mereka) borjuis-nasionalis-demokrat seperti prancis , inggris dalam upaya membendung fasisme nazi.
Dua sayap yang berjauhan ini memang tidak bisa akur, baik ketika mereka belum bertemu secara frontal, atau ketika sama2 sedang tumbuh. Semisal, ketika benito mussolini berkuasa, dia tangkap dan penjarakan seorang tokoh komunis besar italia, antonio gramsci sampai mati. Atau di jerman, seorang pemimpin marxis radikal, rosa luxembourg ditemukan mati tersayat karena melawan dengan berani kaum nazi yang ketika itu sedang menuju ambang kekuasaan.

Kamis, 04 Juni 2009

homo economicus

Kapal luar angkasa enterprise yang ada di film khayalan star trek pernah menjadi tempat tiga fisikawan terkenal,Isaac Newton, Einstein , dan Stephen hawking untuk bertemu dan berdiskusi tentang teori-teori terkait gravitasi. Tiga tokoh nyata yang berbeda generasi ini dipertemukan secara imajiner di meja poker geladak kapal, sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh data, si operator kapal. Mari beralih ke hal yang lain, ilmu ekonomi misalnya. Sebagai salah satu major education yang berkembang dari masa ke masa. Ilmu yang satu ini juga tidak terlepas dari perkembangan, tesis-antitesis, kritik, dan revolusi teoritis yang radikal. Saya sendiri sampai dibuat pusing jikalau harus semalam suntuk belajar ilmu ekonomi baik dari aspeknya yang mikro, sampai yang makro, grafiknya yang naik turun ala pegunungan dan lembah, atau istilah-istilah kuno yang masih terus dipakai karena EYDnya masih EYD era perjuangan tahun 45. Akan tetapi kepusingan itu bisa pudar manakala berlembar-lembar fotokopian soal & jawaban berlabel “ kisi-kisi maknyus’ telah datang dibawakan oleh teman dan teronggok di ujung kamar. Soal yang besok keluar kemudian bisa dengan mudah dijawab, yang gak sesuai dengan fotokopian ya mau tidak mau harus dijawab dengan argumentasi kita sendiri yang kelihatannya ilmiah tapi sejatinya tidak masuk akal secara logika dan berbelit-belit tidak jelas ujung pangkalnya.
Ujian teori-teori ekonomi dari yang kiri seperti komunis-sosialis sampai yang kanan atau ultra kanan seperti kapitalisme-liberalis, seharusnya bisa diatasi dengan cara belajar secara hapalan. Akan tetapi metode hapalan yang jelek dan tidak merasuk hanyalah transformasi dari metode “penginapan ilmu semalam” yang erat kaitannya dengan stigma ‘masuk kuping kanan keluar kuping kiri’. Bagaimanapun juga setelah masa ujian lewat maka otak beberapa mahasiswa kemudian akan di format atau di install ulang dan kemudian direstart. Sehingga kosong lagi lah ‘harddisk’ otak kiri dengan materi-materi ujian dan istilah-istilah futuristic yang sempat menghiasi sel-sel abu-abu (meminjam istilah Hercule Poirot, detektif rekaan Agatha Christie) saya. Makanya, ketika ditanya terkait masalah ekonomi yang paling update seperti krisis global di amerika atau perkara neoliberalisme vs ekonomi kerakyatan. Saya Cuma bisa tersenyum-senyum menunda kata2 “tidak tahu” agar tidak mengeluarkan statement yang menyesatkan orang lain.
Terkait masalah neoliberalisme misalnya, gabungan kata neo dan liberal ini sepertinya sudah banyak disalahartikan oleh pihak2 yng tidak tau atau yang memang berkepentingan tertentu. Neoliberal dikatakan berangkat dari 10 konsepsi di Washington yang disusun melihat perkembangan dunia secara keseluruhan dan beberapa negara berkembang khusus, di mana keadaan ekonominya masih morat-marit, apabila keadaan ini terus berlangsung mau tidak mau negara2 kaya seperti yang terkumpul di G8 akan terkena imbasnya juga, maka disusunlah beberapa rekomendasi ekonomi yang diperuntukkan bagi negara2 berkembang. Di antara 10 butir konsepsi, yang paling berat ditentang oleh kaum nasionalis adalah poin tentang privatisasi industri negara yang strategis dan poin tentang liberalisasi pasar. Dan memang protes akan semakin berkembang apabila kebijakan yang terkait dikembangkan secara serampangan dan berakhir dengan kegagalan. Orang kemudian menjadi alergi akut apabila mendengar kata neolib yang secara salah kaprah dihubungkan dengan era kediktatoran rezim Pinochet di chile yang memakai represi politis untuk melindungi inflasi dan kebebasan ekonomi pasar. Rezim seperti ini, yg di kemudian hari dikenal sebagai kaum monetaris dikritik dan dianggap oleh gerakan ekonomi kiri sebagai kembalinya gerakan penganut laizzes-faire ala adam smith yang membawa nilai-nilai kapitalisme yang murni. Ah saya sendiri juga kurang mengerti….
Beralih ke terminologi ekonomi kerakyatan, di Indonesia istilah ekonomi kerakyatan atau ekonomi pancasila terkait dengan apa yang digagas oleh seorang Indonesia, yaitu Mubyarto setelah melalui sebuah diskursus panjang dengan berbagai kalangan di sebuah kampus di kota gudeg. Apa sebenarnya yang dikehendaki dengan ekonomi yang kerakyatan, apakah kemudian rakyat akan diberi modal besar, akses luas, dan kebebasan yang tidak terikat dalam bergerak di bidang ekonomi ? atau kah akan diambil beberapa poin dari teori ekonomi yang kekiri-kirian ala karl Marx untuk kemudian dimodifikasi dan diimplementasikan di republik ini ? atau bagaimana ? saya sendiri juga nggak ngerti..
Mungkin apabila pertemuan khayalan seperti yang terjadi di geladak kapal enterprise di atas bisa benar-benar dilakukan, ada baiknya mengumpulkan sejumlah teoritisi ekonomi dunia untuk berdialog, kita panggil kakek adam smith, kakek malthus, bang karl marx, serta pak lik John M. Keynes, Werner sombart, dan pak Milton friedman untuk berdiskusi, berdebat, atau kalau perlu adu jotos. Karena teori-teori merekalah yang dipakai sebagai landasan fundamental di beberapa negara dunia yang berpengaruh. Mungkin Keynes akan mencibir marx dengan berkata “ teorimu itu benar2 jelek dan tidak sesuai dengan kodrat manusiawi.. kesetaraan yang ekstrim tidak bisa dan tidak alami untuk diberlakukan di zaman modern indusrti sekarang ini, lagipula secara ilmiah teorimu salah…" dan kemudian Marx menjawab “ bukankah teorimu sendiri juga salah john, kaum monetaris yang memodifikasi gagasanmu akhirnya kembali juga ke fundamen2 dari kapitalisme yang kejam, monetarisme hanyalah kapitalisme yang memakai tutupan…” dan kalau abang penjual ketoprak asal tegal, asli native speaker bahasa jawa ngapak yang sering lewat di depan kost mendengar, ia mungkin berkomentar “sebenarnya apa yang mereka omongkan, apa bisa membuat wong cilik seperti saya menjadi lebih baik ?” hahaha,, sudahlah saya sendiri juga tidak tahu bang..